ervita widyastuti – My Journey

If you want to be happy, be – Leo Tolstoy

Semalam di Phnom Penh (Day 4)

Pagi-pagi jam 6, seperti biasa terbangun oleh alarm dan ternyata hujan masih turun lumayan deras. Dan ketika  jam 7 hujan mulai sedikit reda kami segera check out dan meninggalkan hotel dan  ternyata di depan hotel sudah ada abang tuktuk yang menawarkan jasa untuk berkeliling. Dengan tawar-menawar yang alot kami memutuskan untuk berkunjung ke 3 tempat saja, yaitu Royal Palace, National Museum, Central Market dan setelah itu diantar ke counter bus untuk kembali ke HCMC. Karena sudah pesan untuk kembali ke HCMC dengan bus jam 11.30. Biaya yang disepakati dari yang awalnya 15 US$ kami tawar US$ 7 sampai akhirnya deal US$ 9,-

Karena waktu yang terbatas kami tidak sempat berkunjung ke Kiliing Fields dan Tuol Sieng atau S-21. Hmm, sepertinya setelah membaca tentang ke 2 tempat itu saya tidak terlalu berminat ke sana.

Supir tuktuk yang akan membawa kami berkeliling pagi itu bernama Wachan, tetapi sayangnya tidak bisa bahasa Inggris, sehingga agak sulit juga berkomunikasi. Tetapi dia sangat helpful dan berusaha sekuat tenaga supaya bisa saling mengerti sampai kami jadi sering tertawa tawa saking kocaknya. Oh iya, sebelum berangkat kami sempat membeli makanan serupa laksa yang kami lihat kemarin. Ada orang yang membelinya di depan hotel sehingga kami ikutan beli. Rasanya agak aneh, kuah santannya encer dengan bau bawang yang sangat menyengat. Dengan susah payah saya berusaha memakannya, agak tertolong dengan taburan bubuk cabai untuk menambah rasa. Mudah-mudahan nggak sakit perut deh.

Royal Palace adalah tujuan pertama perjalanan kami. Karena tiba lebih awal dari pukul 8, loket belum buka, sehingga kami bisa berjalan-jalan di lapangan depan Royal Palace, serta bermain bersama-sama dengan puluhan bahkan mungkin ratusan merpati yang banyak terdapat disana. Dari sana kita juga bisa melihat pemandangan dari  tepian sungai Mekong tetapi karena hujan turun rintik-rintik terpaksa tidak bisa terlalu lama di sana.

Setelah puas foto-foto kami akhirnya membeli tiket dan masuk ke dalam Royal Palace seharga US$ 6.25,- yang merupakan tempat kediaman resmi raja Kamboja. Bagunan bercat kuning dengan berhias ukiran berwarna emas menambah keindahan istana raja tersebut. Kami memasuki beberapa bangunan dengan berbagai macam fungsi. Dari ruang tempat singgasana raja sampai bangunan untuk museum berisi barang-barang antik milik istana dan baju daerah Kamboja. Di sebelah Royal Palace terdapat Silver Palace, patung Norodom di atas kuda dan ada museumnya juga.  Walaupun hujan tetap saja istana ini ramai dikunjungi turis.

 

 

Setelah  puas, kami kembali ke tuktuknya Wachan yang diparkir di samping istana di bawah pohon. Di dekat sana ada penjual jagung rebus. Kebetulan banget nih, cuaca dingin makan jagung rebus. Kami minta tolong si wachan untuk membelikan jagung rebus untuk kami. Lagi-lagi dengan bahasa isyarat. Kami makan jagung rebus dengan nikmat di dalam tuktuk dan perjalanan dilanjutkan menuju National Museum yang tidak jauh dari sana.

Masuk National Museum dikenakan charge US$ 2,- Sesuai namanya National Museum adalah museum mengenai sejarah negara Kamboja. Seperti Museum Nasional di Indonesia, hampir seluruh museum ini berisi arca Budha terutama yang berasal dari kompleks candi di Siem Reap serta berbagai macam benda-benda peninggalan sejarah Kamboja dari masa lalu. Ada ruangan khusus yang menceritakan mengenai proses restrukturisasi candi-candi di Siem Reap. Karena tidak boleh berfoto di dalam museum saya hanya berfoto di luar, bangunan museumnya bagus berwarna merah maroon terang dan di depan museum juga terdapat patung kepala gajah. Mirip museum Gajah di Indonesia lah pokoknya.

Sewaktu kami kembali menuju tuktuk tampak Wacan sedang membereskan foto-fotonya sewaktu sedang berada di Siem Reap, berfoto dengan gaya di depan Angkor Wat. Dan dengan wajah cerita memperlihatkan foto-fotonya kepada kami.

Central Market adalah tujuan selanjutnya. Pasarnya lumayan bersih, bentuknya seperti pasar pada umumnya, dengan kios penjual pakaian dan lain-lain. Di jalan menuju pintu masuk pasar banyak pedagang  penjual suvenir seperti kaos, pashmina, pembatas buku, tempelan kulkas dan banyak lagi. Ada penjual serangga goreng yang tampak seperti belalang dan kecoa dengan telur puyuh sebagai side dishnya. Maksud hati pengen nyoba tapi kok mengerikan ya..  Di dalam pasar ada penjual beraneka macam bubur seperti bubur kacang ijo, ketan hitam, candil  dan lain-lain, mirip penjual dawet di Pasar Gede, Solo. Dengan bangku-bangku yang menghadap kios penjual bubur, si bapak dengan cekatan menyendok pilihan bubur yang kita tunjuk mencampurnya dengan santan dan gula dan semangkuk bubur lezat telah tersedia. Hmm.. yum yum, santannya terasa sekali, gurih dan manis gulanya pas. Ada juga makanan yang tampak asing dan kami hanya bisa mengira-ngira saja itu apa.

Waktu berjalan cepat dan ternyata sudah hampir jam 11 siang, saatnya menuju travel tempat bis kami berangkat. Mampir di toko roti sebelah travel untuk membeli roti sekalian menghabiskan Riel. Dan tepat jam 11.30 bis berangkat.  Di tengah jalan ketika bis akan menyeberang sungai Mekong, saya sempat membeli makanan yang banyak dijajalan berupa ketan bercampur kacang tolo yang berada di dalam bambu. Lumayan untuk mengganjal perut.

Proses di imigrasi ke dua negara berjalan lancar seperti pada waktu berangkat dan bis tiba di terminal di jl Pham Ngu Lao sekitar jam 18.30 malam dan kami segera menuju ke Long Guest House kembali. Kali ini kami mendapat kamar yang lebih luas dengan balkon di depannya. Baik banget Mrs Long.

Setelah beres-beres, saatnya belanja ke Ben Than Market.  Sebelum menuju ke pasar kami mampir kembali untuk makan malam di Pho Quynh deket Hostel.

Di pasar Ben Than hampir semua barang-barang yang ditawarkan menggiurkan untuk dibeli. Terutama yang hobby mengumpulkan tempelan kulkas. Jangan segan untuk menawar, pasang gaya cuek dan tidak terlalu tertarik, karena kemungkinan dipanggil lumayan besar. Kalau membeli beberapa barang di 1 kios mintalah ekstra diskon. Pulang dari Ben Than mampir lagi di Trung Nguyen Coffee untuk membeli kopi bubuk. Saringannya sendiri sudah beli di hostel yang menjual dengan harga sangat murah, hanya 10.000 VND alias Rp. 5000,- saja.

Setelah dari Trung Nguyen kami mampir ke kafe kopi lain yang bernama Highland Coffee. Hmm, kurang enak kopinya, sedikit lebih pahit dari pada Trung Nguyen.  Malah lebih enak kopi yang di tempat makan Pho itu deh. Alhasil malamnya saya susah tidur, selain karena malam terakhir pasti akibat minum 2 gelas kopi Vietnam.

Note :

  • Peta sangat penting, sehingga sebisa mungkin membawa persiapan peta dengan mengambilnya dari google map karena itinerary bisa berubah sewaktu-waktu menyesuaikan dengan keadaan.
  • Jangan lupa membawa vitamin dan obat-obatan secukupnya untuk berjaga-jaga bila terjadi perubahan cuaca.
Tinggalkan komentar »

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

1 Komentar »